Bencana Alam Indonesia

Web Milis Diskusi Grup Bencana Alam

Arsip untuk 2007

Menanggulangi Banjir dengan Sistem Polder

Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan akan menggunakan sistem polder untuk menanggulangi banjir di Jakarta, khususnya untuk 40% wilayah Jakarta yang katanya berada di bawah permukaan laut. Sistem polder ini telah direncanakan oleh Herman van Breen dan tim (dengan banjir kanal barat dan timur) ketika merancang kota sebagai respon terhadap banjir besar yang melanda Batavia tahun 1918. Namun sayangnya rencana yang bagus ini belum bisa terealisasi sepenuhnya hingga saat ini. Di Jakarta sendiri sistem polder ini sebenarnya sudah diterapkan di kawasan perumahan elit di tepi laut Jakarta Utara. Polder adalah sekumpulan dataran rendah yang membentuk kesatuan hidrologis artifisial yang dikelilingi oleh tanggul (dijk/dike). Pada daerah polder, air buangan (air kotor dan air hujan) dikumpulkan di suatu badan air (sungai, situ) lalu dipompakan ke badan air lain pada polder yang lebih tinggi posisinya, hingga pada akhirnya air dipompakan ke sungai atau kanal yang langsung bermuara ke laut. Tanggul yang mengelilingi polder bisa berupa pemadatan tanah dengan lapisan kedap air, dinding batu, bisa juga berupa konstruksi beton dan perkerasan yang canggih. Polder juga bisa diartikan sebagai tanah yang direkalamasi. Sistem polder banyak diterapkan pada reklamasi laut atau muara sungai, dan juga pada manajemen air buangan (air kotor dan drainase hujan) di daerah yang lebih rendah dari muka air laut dan sungai.

Polder identik dengan negeri kincir angin Belanda yang seperempat wilayahnya berada di bawah muka laut dan memiliki lebih dari 3000 polder. Sebelum ditemukannya mesin pompa, kincir angin digunakan untuk menaikkan air dari suatu polder ke polder lain yang lebih tinggi. Bicara tentang banjir kita perlu banyak belajar dari negara ini yang sudah kenyang bergulat memerangi banjir sejak abad ke-17 karena morfologi alamnya sebagian besar yang berupa rawa dan dataran rendah. Di negara ini, ancaman banjir datang secara rutin dari laut melalui gelombang pasang dan ganasnya badai Laut Utara, ataupun dari luapan sungai Ijssel, Maar, dan Rijn akibat mencairnya es di hilir sungai pada akhir musim dingin. Sistem polder dipakai untuk mengeluarkan air dari dataran rendah dan juga menangkal banjir di wilayah delta dan daerah aliran sungai. Di negara ini, rencana penanganan banjir ditetapkan pada level nasional, provinsi, dan kotapraja. Terdapat Badan Manajemen Air yang sejajar dengan pemerintahan lokal dan berperan khusus dalam perencanaan, manajemen aktivitas yang berkait dengan air, juga upaya mitigasi bencana banjir. Upaya penanganan banjir juga melibatkan masalah penyediaan perumahan, tempat kerja, suplai air minum, pertanian, lingkungan ekologis, galian mineral, bahkan pariwisata dan rekreasi. Sungai Rijn (Rheine) yang menyebabkan banjir adalah lintasan jalur wisata perahu pesiar yang bermula di Swis, melewati Jerman, dan berakhir di Belanda.

Berkaitan dengan aspek ruang, bermacam kemungkinan terjadinya banjir (ketinggian, daerah tergenang) dari beragam periode ulang (return period) dikaji untuk menentukan sistem pengaliran air dan batas polder. Ada beberapa daerah di sekitar badan sungai yang memang disiapkan untuk digenangi ketika banjir besar (periode yang lebih lama) melanda. Daerah ini biasanya dimanfaatkan untuk fungsi pertanian atau daerah hijau. Ketentuan sempadan sungai dan tanggul juga diterapkan untuk menjamin tidak ada bangunan pada daerah tersebut. Kontrol pada pemanfaatan lahan agar sesuai dengan peruntukannya amatlah ketat, dimulai dari kelayakan pada saat perijinan, pengawasan rutin, hingga penggunaan foto udara kawasan. Selain ditunjang sumberdaya manusia, teknologi, dan finansial, upaya penegakan hukum dan peraturan merupakan salah satu kunci keberhasilan penanggulangan banjir di negara ini. Untuk menerapkan sistem polder di Jakarta, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.

Pertama, pemanfaatan lahan di sekitar tanggul harus dikontrol seketat mungkin, paling tidak sepanjang bantaran sungai dan tanggul kanal harus bebas dari bangunan dan permukiman liar. Daerah ini memiliki resiko tertinggi bila terjadi banjir. Alternatif pemanfaatannya bisa berupa taman ataupun jalan. Berkait dengan tata ruang secara umum, penegakan ketentuan tata ruang seperti guna lahan (land use) dan koefisien dasar bangunan (KDB) juga harus benar-benar dilaksanakan, tidak sekadar menjadi proyek untuk menghabiskan anggaran pemerintah.

Kedua, ketika semua air buangan dialirkan ke laut, ancaman banjir dari laut juga perlu diperhatikan. Bukan tidak mungkin gelombang pasang akan membanjiri kota melalui kanal banjir yang ada. Mungkin saja diperlukan pintu atau gerbang kanal yang bisa dibuka-tutup sewaktu-waktu. Ketiga, sistem polder amatlah bergantung pada lancarnya saluran air, kanal, sungai, serta kinerja mesin-mesin yang memompa air keluar dari daerah polder. Aspek perawatan (sumber daya manusia dan peralatan) perlu mendapat perhatian dalam bentuk program kerja dan anggaran. Yang terjadi selama ini kita lebih pandai mengadakan sarana dan prasarana publik ketimbang merawatnya.

Keempat, resapan air hujan perlu lebih dimaksimalkan melalui daerah resapan mikro seperti taman, kolam, perkerasan yang permeabel, dan sumur resapan. Prinsipnya adalah mengurangi buangan air hujan ke sungai dan memperbanyak resapannya ke dalam tanah. Disini, peran arsitek, kontraktor, dan pemilik properti amatlah penting untuk mengalokasikan sebagian lahannya untuk fungsi resapan seperti taman rumput (bertanah) dan sumur resapan. Daerah resapan yang tidak terlalu luas namun jika banyak jumlahnya dan tersebar di seluruh penjuru kota tentu akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meresapkan air hujan ke dalam tanah. Sistem polder merupakan upaya struktural penanggulangan banjir yang konsekuensinya jelas adalah biaya yang amatlah besar dan waktu yang lama, baik untuk pembebasan tanah, pembangunan fisik, maupun untuk pengadaan dan perawatan mesin-mesin dan peralatan. Selain itu, yang tak kalah pentingnya adalah upaya non-struktural yang berkaitan dengan pendidikan publik. Upaya membangun kesadaran seperti tidak membuang sampah di saluran air, memperbanyak penanaman pohon, menggunakan perkerasan grass-block dan paving-block yang permeabel, atau bahkan bagaimana bersikap ketika banjir datang akan jauh lebih berguna untuk mencegah banjir dan meminimalisir kerugian akibat banjir yang bisa datang setiap tahun.


Amin Budiarjo

Praktisi Perencanaan dan Pembangunan Perkotaan

Penulis adalah pekerja lepas di bidang arsitektur dan perencanaan kota, lulus Sarjana Arsitektur dari ITB Bandung dan juga Master of Science in Urban Planning and Management di ITC-UPLA Enschede, Belanda. Sebelumnya bekerja sebagai staf peneliti lepas di LPPM-ITB dan pada proyek Strengthening Local Authority in Risk Management (SLARIM) ITC Enschede, Belanda. Saat ini penulis bekerja sebagai Urban-Geographic Information System Specialist pada proyek San Diego Hills Memorial Park – PT. Lippo Karawaci Tbk.

 

Web GIS Pasca Gempa Yogyakarta

Untuk mengecek Web GIS Pasca Gempa Yogyakarta, silakan klik ke link berikut:

http://202.169.229.17/index.html

Sumber: Hadi Purwanto

Padang Earthquake, March 6, 2007

Deadly earthquake hits Indonesia

A powerful earthquake has struck the Indonesian island of Sumatra, killing at least 30 people and flattening hundreds of buildings. The US Geological Survey said the quake had a magnitude of 6.3, and was centred near the town of Padang.

There are fears the death toll may be higher, and one official told the BBC that 59 people had been killed.

The quake struck at 1049 local time (0349 GMT), causing panic among residents in western Sumatra.

Source:
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/6421823.stm

Tanah Longsor di Manggarai, Flores 1 Maret 2007

Tanah Longsor kembali terjadi di Indonesia. Kali ini daerah Manggarai di Flores yang mengalami bencana. Menurut Kompas Jumat 2 Maret 2007,  Korban jiwa setidaknya tercatat 43 orang. Lokasi tanah longsor dapat dilihat di peta berikut.

Manggarai

testimoni (kebanjiran di Ciputat)

Rekan-rekan,

Berikut kisah seorang ibu yang menceritakan tentang banjir yang mereka alami.

Ditulis oleh Klaudia

lokasi, dekat Ciputat, Jakarta

==================================================================

sekedar fyi, kami tinggal di daerah rempoa (sebelum ciputat), deket bintaro sektor 1… rumah kami kebanjiran dengan ketinggian air mencapai bagian atas dada orang dewasa. mobil pun terendam air secara sempurna. untungnya *memang kita harus tetap bisa mampu melihat sisi positif yah, hehehe* kami sempat loh mindahin barang2 dari lantai 1 ke lantai 2… barang2 kayak sofa tivi, spring bed.. kami mendadak menjadi perkasa *aku, bibi pembantu, dan si mbak babysitter* waktu banjir datang, Agus, suamiku, masih terjebak macet karma arteri yang dilalui bis yang ditumpanginya terendam banjir.

pertama banjir masuk rumah *saat itu aku tengah siap-siap mau rebahan tidur di samping lentera.. tiba-tiba si bibi pembantu membuka pintu kamar sambil teriak banjir….* kami langsung mindahin karpet dan sofa ke atas.lalu spring bed.. bayangin 3 cewe ngangkat spring bed gede ke lt.2… ditambah lagi aku sambil gendong lentera di satu tangan, tangan yang lain bantuin ngangkat pring bed. agus masih belum pulang juga. begitu air semata kaki, listrik kulkas dan dispenser langsung

aku cabut. lalu mindahin semua barang elektronik ke atas. ternyata ga lama, naik lagi sebetis… aku langsung mindahin semua yang bisa kami angkut ke lt.2.. lalu sedengkul… agus pulang, langsung bantu ngangkutin barang ke lt.2… lalu sepaha! kami langsung diam
di lt.2. tadinya kami berfikir untuk
 tidur di rumah aja. tapi hujan ga
nunjukin tanda2 mau reda juga. Kami
 mencoba telp 112 atau nyari tau nomer kantor polisi. minta bantuan perahu karet. tapi ga berhasil.

aku langsung minta ban berenangnya lentera ditiup. mikirnya, kalopun kami udah ga mungkin gendong dia melewati banjir, masih bisa didorong2 lah…. tapi hatiku tetap ga tenang… lalu kami nekad menembus banjir di tengah hujan lebat malam itu, saat genangan air di
luar rumah sudah mencapai dadaku. Tapi
 aku HARUS pergi saat itu juga. aku inget punya kerabat di blok atas. sempat aku hubungi, ternyata karena lebih tinggi, di sana ga banjir. aku, agus (sambil gendong lentera,
karena kalo aku yang gendong.. lentera
 pasti udah basah kuyub) dan babysitternya (sambil mayungin agus dan lentera) berjuang melawan arus air yang cukup deras. sampai di simpang dekat rumah, aku teriak minta tolong pada satpam yang jaga di gardu. saat aku teriak tolong, mereka masih diam aja.. tapi saat aku teriak tolooooong, anak saya!!!! baru deh mereka menyusul kami. karena arus terlalu deras, kami pun harus berjalan menyamping. banyak banget kayu-kayu menghantam betis, dengkul, paha dan telapak kakiku… sakit! Tapi aku tak perduli. yang penting bisa keluar dulu bawa anakku. akhirnya tiba juga di rumah kerabatku itu. begitu kami sampai, kerabatku itu *thanks yah mom rieke!* langsung mengambil lentera.. dipeluk. karna takut lentera kedinginan. kami semua udah basah kuyup! agus pulang lagi ke rumah. aku minta dia untuk jemput si bibi pembantu. kalau si bibi ga keluar malam itu juga, entah lah… aku khawatir sekali karena hujan masih saja deras dan tidak menunjukkan tanda-tanda bakal reda.


begitu suasana tenang, baru aku liat
 jam. astaga, udah jam 1.30 pagi ternyata! sejak air masuk rumah jam 9.30 itu, kami benar-benar terlena dengan kesibukan sampai ga tau waktu ternyata udah dini hari….

keadaan lebih tenang.. kami pun berbilas, supaya kulit tidak gatal-gatal. lega? iya, tentu. karna aku berhasil membawa pergi anakku sebelum air terlalu tinggi. sampai pagi, ujan ga kunjung reda. aku makin gelisah. kabarnya udah sampai se leher di jalanan. ya, Tuhan maha besar!!! aku pun akhirnya memasrahkan mobil dan rumah yang udah terbenam. materi bisa dicari.yang penting nyawa dulu selamat. Puji Tuhan, kami sekeluarga dalam kondisi sehat. hanya lentera yang mulai bersin-bersin. *karna lentera masih minum asi, aku jadi menegak obat batuk dan obat flu.. supaya lentera bisa meminumnya lewat asi*

tadi pagi ke rumah, ternyata puji Tuhan keadaan lebih tenang.. kami pun berbilas, supaya kulit tidak gatal-gatal. lega? iya, tentu. karna aku berhasil membawa pergi anakku sebelum air terlalu tinggi. sampai pagi, ujan ga kunjung reda. aku makin gelisah. kabarnya udah sampai se leher di jalanan. ya, Tuhan maha besar!!! aku pun akhirnya memasrahkan mobil dan rumah yang udah terbenam. materi bisa dicari. yang penting nyawa dulu selamat. Puji Tuhan, kami sekeluarga dalam kondisi sehat. hanya lentera yang mulai bersin-bersin. *karna lentera masih minum asi, aku jadi menegak obat batuk dan obat flu.. supaya lentera bisa meminumnya lewat asi*

tadi pagi ke rumah, ternyata puji Tuhan udah surut. lumpur dimana-mana… kerja keras nih, hehehe…. dan tabungan ASI perah pun udah basi semua *padahal lumayan bo! 20 botol (sekitar 2 liter)* mari, singsingkan lengan baju… kita berbenah!! =) Tuhan berkati kita semua yah.. aku bersyukur sekali masih bisa menikmati kicau burung pagi ini sambil menimang lentera kecil yang tergolek manja di gendonganku. meski badan pegel luar biasa, tapi saat lentera naik ke bahuku, tidak terasa berat loh! padahal udah 6 kilo, hehehehe……

salam manis,
clodi.blogspot.com

Selamat Bergabung di Grup Diskusi Bencana Alam

Selamat Bergabung!

Pertama-tama, mengapa bernama “Bencana Alam”? Nama bencana alam dipilih bukan karena bencana alam disukai. Tetapi nama ini semoga menjadikan kita lebih waspada dan belajar di dalam memberikan respon yang positif terhadap kehadirannya. Dalam bahasa Inggris, paling tidak ada dua istilah yang mungkin  mewakili kata ini: “natural hazards” dan “natural disaster”.  Beberapa kelompok diskusi virtual di dunia, juga menggunakan natural hazards dan disaster sebagai nama forum diskusi. Karena itu pemilihan nama bencana alam di dalam grup ini, semoga memberikan kesan positif bahwa forum ini diharapkan menjadi wadah diskusi, tukar-menukar informasi tentang bencana alam.

Kedua, sudah tidak dipungkiri lagi, Indonesia adalah negara yang rawan terhadap bencana alam. Letak Indonesia yang berada pada zona “ring of fire”, menunjukkan bahwa Indonesia rawan terhadap gempa bumi dan letusan gunung berapi. Selain itu, keteledoran di dalam manajemen lingkungan, membuat bencana alam lain seperti banjir dan tanah longsor sering pula terjadi. Kepedulian terhadap “bencana alam” harus semakin tinggi. Dari masyarakat, peneliti, para aktivis dan pemerintah perlu terus belajar tentang bencana alam. 

Rekan-rekan yang telah berkecimpung di bidang bencana alam, sangat diharapkan memberikan masukan info untuk meningkatkan kualitas forum ini. Silakan memberikan taut (link) thesis, artikel, dsb yang berkaitan untuk menambah kasanah pengetahuan kita.

Buat rekan-rekan yang baru bergabung selamat memberikan masukan ke diskusi ini. Utk subscribe, kirim email kosong ke: bencana_alam-subscribe@googlegroups.com

Untuk mengirim tulisan: bencana_alam@googlegroups.com

Selamat Bergabung!

Moderator: saut.sagala@gmail.com

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.